Anak kecil itu cerdas!!!

Hallo!!

Sudah lama tidak bertemu!

Memberanikan diri untuk menulis lagi setelah sekian lama vacuum. Posisi saya sekarang berada di kereta tepatnya KRL dari Bogor menuju Manggarai. Lagi-lagi saya harus merasakan capek-capeknya berdiri di kereta, tapi tak apalah namanya juga berjuang.

Hari ini sesuai dengan judul di atas, saya ingin sedikit menceritakan hebatnya seorang anak kecil. Pasti semua dari kita pernah merasakan menjadi anak kecil kan?

Anak kecil itu bakal menjadi bakat bibit kita untuk menjadi manusia dewasa seutuhnya. Kalau masih kecilnya aja udah strong pasti gedenya bakalan strong juga. Yakin deh!. Yaa, kalau ada yang bilang anak kecil itu bagaikan selembar kertas kecil mungkin bisa dibilang seperti itu.

Saya akan menceritakan sedikit bagaimana saya ketika kecil. Bukan sombong loh ya. Tapi, waktu saya kecil saya itu orangnya cerdas banget, bekajar dikit rangking satu, belajar kursus dikit eh bisanya kebangetan. Nah, aku juga baru banget ngerasain pentingnya masa kecil itu sekarang.

Pasti dari kita semua sudah tahu yang namanya komputer, laptop, dan keyboard kan?. Dulu sewaktu saya SD kelas 6, saya iseng-iseng pengen kursus komputer. Menurut kalian nih ya, kalau mau kursus komputer apa yang dipelajari? Excel? desain?. Hampir semua pasti seperti itu. Tapi si anak SD saya ini lebih memilih kursus mengetik. Ya mungkin bagi temen-temen semua mengetik bukanlah hal yang sulit. Tapi kalau menjadi pengetik cepat saya menjamin kelas 6 SD saya pasti lebih cepat dari teman-teman dan tentunya sampai sekarang juga.

Suatu haripun ketika saya masih mengajar di salah satu bimbingan belajar, saya menemukan anak-anak yang unik. Anak-anak yang hanya dipuji sedikiiiit saja tapi ternyata bisa mengembangkan anak itu ke tingkat kebisaan yang luar biasa. Menurut saya sih ya, pujian itu penting. Yaaa, walaupun banyak orang yang ga mau dipuji (tapi kalau dipuji pasti seneng deh).

Anak ini, dia suka banget sama seni gambar. Gambar apapun, Doodle, Karakter, Pemandangan, pasti dia suka gambar. Dan tahukah kalian, pujian yang saya ucapkan ketika melihat gambar dia menjadikan dia lebih giat untuk berlatih “menggambar” dan gambarnya sekarang jauuh lebih baik daripada sebelumnya. Dan, ga semua orang jago gambar.

Itu mungkin salah dua contoh bagaimana bakat seorang anak harus dipancing sejak dini – sejak kecil. Karena bakat tersebut bakalan membekas sampai dewasa dan pastinya menjadi nilai lebih sendiri dari orang-orang kebanyakan (ya meskipun setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing).

Jadi, mulai sekarang. Kita harus cari tahu benar apa yang terbaik buat anak-anak kita nanti. Jangan sampai malah mrngahambat bakat yang dimiliki anaknya.

Kadang-kadang rindu sekali menjadi guru, menjadi orang-orang yang sedikit banyak berperan penting untuk masa depan orang lain.

Terimakasih sudah mau membaca. Semoga bermanfaat.

Selasa, 31 Mei 2016

Bogor – Jakarta

Sadur: Rindu karya Tere-Liye

Sebenarnya, belum sempat aku untuk membaca buku ini. Ada beberapa tugas yang harus aku selesaikan. Mungkin ada yang tertarik. Namun sekarang aku hanya ingin menuliskan ulang apa yang ada dihalaman terakhir dibalik buku tersebut.

———————————————————————–

“Apalah arti memilki,
Ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?

Apalah arti kehilangan,
ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan dan sebaliknya, kehilangan banyk pula saat menemukan?

Apalah arti cinta,
ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? bagaimana mungkin kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?

Wahai, bukanlah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.”

—————————————————————————

belum bisa mencerikan banyak tentang novel ini ya karena akupun belum mulai untuk membaca, tapi manisnya penggambaran penulis akan semanis romantisme yang diceritakan.

Bogor, 17 April 2015

“On-Fire dengan Tugas!”

Sadur: Kerendahan Hati karya Taufik Ismail

Hari ini ada suatu hal yang membuat saya berpikir lebih dalam tentang penerimaan orang terhadap saya. Setiap tubuh manusia pasti ada salah dan salah itu harus diperbaiki. tapi, saya bukan termasuk orang yang mudah untuk memperbaiki itu. biasanya, sakit yang membuat saya agak sedikit meringis ini yang malah menjadikan diri tidak produktif. lebih suka menyendiri. menekukkan lutut, menenggelamkan pandangan kebawah lutut.

untuk menghilangkan rasa gundah, buku adalah salah satu cara paling ampuh. seorang adik yang ku kenal membawakan sebuah buku yang sangat menginspirasi. didalam buku tersebut ada salah satu sajak dari Taufik Ismail yang berjudul Kerendahan Hati. mudah-mudahan dapat menginspirasi.

—————————————————————-

Kerendahan Hati
Karya Taufik Ismail

kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak dipuncak bukit
jadilah belukar, tetapi belukar yang baik, yang tumbuh di tepi danau

kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
jadilah saja rumput, tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan

kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
jadilah saja jalan kecil, tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air

tidaklah semua menjadi kapten,
tentu harus ada awak kapalnya..

bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu
jadilah saja dirimu…
sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

——————————————————————–

sangat luar biasa sekali sajak ini pengaruhnya. lembut, bijak, dan sangat mudah untuk menyentuh hati manusia yang sangat rapuh.

bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu,
jadilah saja dirimu,
sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

bagaimana sobat, adalah sebagian hatimu yang tersentuh?

Bogor, 23 Februari 2015
Pukul 23.51 WIB

Yang Nanti-nanti…

Mata, ini diciptakan dari berjuta-juta syaraf yang saling menyambung satu sama lain. indra yang satu selalu berhubungan dengan yang lain bahkan bisa lebih dalam lagi, yaitu HATI. Ada yang bilang, jika cinta itu berawal dari mata yang nantinya akan jatuh ke hati. ini benar memang. tapi tidak sedikit pula orang-oran diluar sana yang jatuh cinta bukan berawal dari mata. lalu dari mana? ya, dari setiap perkataan yang terucap, nasihat-nasihat lembut yang terkadang membuat jiwa kepayang karena perhatian.

Hati wanita, wajarlah jika ia mendamba perhatian. menurut pemikiran saya sebagai seorang wanita. wanita itu jika jatuh cinta sebabnya jarang sekali karena keindahan luar saja. cintanya dia dalam arti cinta roman bisa mengalir karena ketenangan dan kenyamanan. jadi, batapa sulitnya sebenarnya menjadi wanita. ia ingin diperhatikan tapi sangat mudah sekali menyalah artikan. manajemen perasaan sepertinya perlu diajarkan untuk wanita agar ia tidak mudah sakit, tidak mudah berprasangka dan dapat hidup tanpa rasa was-was dan resah berlebihan karena hal-hal yang kurang masuk akal. *sigh

menulis ini seperti sedang menertawakan diri sendiri. usia yang tidak muda lagi. dengan kegiatan sekarang yang kurang dihargai (masih menunggu untuk bisa mencari nafkah sendiri). membuat diri memikirkan hal-hal nanti-nanti yang biasa jadi topik berandai-andai. tapi, biarlah hidup ini tetap mengalir dengan dayung dan papan berada ditangan. hal-hal nanti-nanti memang harus kita pikirkan tapi lagi-lagi disaat yang tepat nanti. dan berhati-hatilah pada setiap kamu yang ingin bergurau dengan wanita. karena wanita mudah sakit hati dan menyalah arti. cukup berbuat baik dengannya jaga hati dari keinginannya yang nanti-nanti.

Bogor, 21 Februari 2015
Pukul 17.04 WIB

Sakinah (re: Ketenangan)

Setiap hati yang diciptakan oleh-Nya pasti pernah mengalami kegundahan, resah, dan gelisah. Perasaan yang terus bergerak mengalir seperti daun yang jatuh dipermukaan sungai, hanyut terbawa aliran air. Terus berganti, mulai dari senang, tenang hingga sedih dan merasa benci. Inilah manusia,

Sakinah, kata ini selalu terucap saat mendoakan sepasang pengantin baru yang baru saja menikah tentunya. tapi sakinah bukan hanya doa yang terucap saat melangsungkan pernikahan saja. sakinah, ketenangan harusnya menjadi tujuan saat kita mengangkat kedua telapak tangan kita keatas sambil menunduk memjamkan mata penuh harap.

ketenangan ini, jauh sebelum dilanda rasa gelisah dan amarah terasa tak terlihat (re:terasa). namun, saat hati begitu sakit, ada perasaan mengganjal yang terkadang kita sendiri malah tidak tau asalnya darimana, doa-doa memohon ketenanganlah yang kita ucapkan.

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu jiwa yang merasa tenang kepadaMu, yang yakin akan bertemu denganMu, yang ridha dengan ketetapanMu, dan yang merasa cukup dengan pemberianMu.

maka tidak salah, jika sakinah adalah dambaan setiap muslim. saat bahagia apalagi sedih. sakinah adalah perasaan hati yang selalu diimpikan.

semoga ketenangan hati kita terus terjaga.

Bogor, 21 Februari 2015
Pukul 14.29 WIB

Sadur : Nasihat Elang pada Anaknya (Karya Dr. Muhammad Iqbal)

sudah hampir dua tahun catatan ku ini tidak ku kunjungi sama sekali. untuk memulai kembali, saya akan mencoba membuka dengan menyadur sebuah sajak karya Dr. Muhammad Iqbal dari buku penuh nasihat yang ditulis oleh seorang profesional medis dr. Ade Hashman, Sp.An yang berjudul Karena Kita Begitu Berharga.

——————————————————-

Naseihat Elang pada Anaknya

Kau tahu…
bahwa semua Elang hanya pantas bagi sesama Elang.
dengan segenggam sayap, masing-masing memiliki hati singa.
harus berani dan hormati diri, sergaplah mangsa yang besar saja.
jangan bersibuk denga ayam hutan, burung meliwis, dan pipit.
kecuali jika engkau ingin melatih kepandaian memburu.

Adalah hina, pengecut tanpa berusaha mengeram.
membersihkan paruh kotor dengan mengambil makanan dari tanah.
elang tolol yang meniru cara hidup burung pipit yang pemalu akan menjumpai nasib malang.
sebab ia akan menjadi mangsa buruannya.

kutahu banyak elang yang jatuh dalam debu di mata mangsanya.
oleh karena mereka memilih jalan hidup burung pemakan gandum.
perliharalah martabatmu hingga hidupmu bahagia
selalu geram, keras, berani.
dan kuat dalam perjuangan hidup.
biarlah ayam hutan yang malang punya tubuh indah dan langsing
bangunlah dirimu kokoh setangguh tanduk rusa jantan.
adapun kesenangan yang berasal dari kehidupan fana disini datang dari hidup yang penuh keberanian, Kegiatan, dan kecermatan

nasihat berharga yang telah diberikan Elang pada anaknya:

“Jadikanlah tetesan darah kemilaumu berkilat-kilat bagai manikam.
Janganlah kehilangan diri dalam pengembalaan seperti domba dan kerbau.
Jadilah engkau seperti nenek moyangmu semenjak dulu.
kuingat betapa baik orang tuaku senantiasa menasihatiku begitu.
Jangan bangun sarangmu di dahan pohon.
kita para Elang tidak mencari perlindungan di taman dan di ladang manusia
surga kita ada dipuncak-puncak gunung, gurun luas dan tebing jurang.
Haram bagi kita menjemput bulir-bulir jelai dari tanah
sebab Tuhan telah memberi kita ruang lebih tinggi yang tidak terbatas.

penduduk kelahiran angkasa yang berdiam di bumi, di mataku lebih buruk dari burung kelahiran bumi.
bagi elang ladang buruannya adalah karang dan batu jurang.

karang baginya adalah batu gosok untuk mempertajam cakar-cakarnya.
kau adalah salah seorang anak kebuasan yang bermata dingin.

keturunan paling murni dari burung Garuda.
jika seekor elang muda ditantang oleh seekor harimau.
tanpa mengenal takut ia akan membelalakkan matanya.
terbangmu pasti dan megah seperti terbang malaikat.

dalam nadimu mengalir darah raja purba puncak-puncak gunung.

dibawah kolong langit yang luas ini, kau tinggal
martabatmu terangkat oleh kekuatan.
sasaran apapun tak ditampik oleh matamu.
kau tidak boleh mengemis makanan dari tangan siapun kapan pun saja.
baik-baiklah kau membawa diri

dan dengarkan selalu nasihat yang baik dan luhur ini.

——————————————————

kalau menurut pandangan saya pribadi, sajak ini mendorong kita untuk bisa memperlihatkan kekuatan kita sebenarnya.
tidak menganggap diri kita lemah, dan keluarkan apa yang paling “buas” yang bisa kita lakukan.
kadang kala, manusia bersikap terlalu “tawadhu” terhadap dirinya sendiri. sehingga menjadi rendah diri dan terkesan tidak bisa melakukan apa-apa. Padahal, dia adalah Man of The Scene dari dunia dan lingkungannya. Everybody, NO exception!
berkaca kembali kepada kehidupanku selama ini. apakah sudah menampakkan ke”buas”annya?

Bogor, 21 Februari 2015
Pukul 02.15 WIB

Dakwah #2

“Demi Allah, jika ada seorang diberi petunjuk oleh Allah SWT melalui dirimu, maka hal itu lebih baik bagimu daripada engkau mendapatkan karunia berupa sejumlah unta yang bagus-bagus” – Rasulullah

Dakwah adalah hadiah, hadiah termahal yang didapatkan seorang muslim adalah apabila ia bisa mengajak orang lain ber-amar ma’ruf nahi munkar.  Apalagi jika ia mengajaknya dengan cara lemah-lembut, lapang dada, ikhlash, dan berucap manis.

“Seorang muslim adalah siapa saja yang dapat menyelamatkan umat Islam dari gangguan lisan dan tangannya” – Rasulullah

Maka sebagai seorang muslim kita patut untuk menyelamatkan umat ini dari gangguan lisan dan tangan-tangan yang jahil. Seorang muslim harus sanggup merubah segala perbuatan buruk yang dilihatnya baik dengan tangannya, lisan maupun dengan hatinya. Seperti yang dilakukan oleh Mush’ab ibn ‘Umair dalam rangka menyebarkan agama Islam di Madinah ini.

“Mari kita duduk bersama untuk mendengar ajaran agama ini. Jika kalian mau, maka silakan menerimanya. Dan jika kalian tidak mau, maka kalian boleh meninggalkannya. Demi Allah, aku tidak akan memaksakan kalian sedikit pun, meski harus dipotong karenanya.” – Mush’ab ibn ‘Umair

Ini salah satu paragraf favorit saya, ketika seorang Mush’ab ibn ‘Umair sanggup meluluhkan penduduk madinah yang tadinya menghunuskan pedang menjadi membawa keimanan setelahnya. Berdakwah dengan lemah lembut –ini sepertinya lebih efektif di jaman sekarang- daripada dengan hati yang keras. Berdakwah dengan lemah lembut pun tidak jarang mendapati risiko besar sampai nyawa sebagai taruhanya.

Dan Mush’ab ibn ‘Umair ini meninggal saat perang badar dengan keadaan kedua tangan berpisah dari badanya begitu pula kepalanya. Saya sedikit tercengang mengetahui hal ini, seorang syahid berdasarkan apa yang pernah dikatakannya dahulu (baca : inget kalimat –meski harus dipotong karenanya-). Ini juga yang hampir terjadi pada kawan saya, dia selalu berucap “saya akan melakukan *hal ini* sampai syahid” dan pada akhirnya, dia pun hampir mendekati kematian dalam jalan syahidnya.

“Sesungguhnya engkau tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” – Al-Qashash : 56

Sebagai seorang da’i bukanlah kita yang sebenarnya dapat memberi petunjuk kepada orang lain melainkan Allah-lah yang memberi petunjuk tersebut. Usahakan kita-lah sebagai sarana pengantar petunjuk Allah tersebut, dengan jalan dakwah yang kita gunakan. Jalan dakwah yang bisa kita tempuh pasti memiliki kendala tersendiri, ada beberapa jalan dakwah yang dapat kita laksanakan. Mungkin dapat dimulai dengan persiapannya. Mulai dari mempersiapkan ilmu yang kita miliki, meng-up date-nya terus menerus, menyelaraskan qalbu (hati) kita dengan Al-Qur’an tentunya, dan dalam berdakwah pilihlah cara yang sesuai dengan syari’at (seperti tidak berbohong, mencaci-maki, dan menyakiti pihak lain), ikhlash berdakwah tanpa pamrih.

Ini ada sedikit nasehat buat para da’i, mungkin akan menjadi sedikit saran atau malah sedikit sentilan yang mungkin diantara kita pernah sedikit alfa :

“Hendaknya kalian mejadi orang-orang yang bersikap mulia, agar dakwah yang kalian sampaikan dapat diterima dengan baik oleh para pendengarnya. Tampilkan diri kalian sebagai orang-orang ahli ibadah, dan tidak butuh kepada kesenangan duniawi. Sebab, hanya dengan sikap yang baik dan jujur, maka nasihat dan pendapat yang kalian sampaikan akan diterima orang lain dengan baik. Kalian juga tidak berharap imbalan apapun, kecuali keridhaan Allah SWT dan pahala dari sisi-Nya di akhirat kelak. Sebaliknya, jika kalian berharap imbalan dari orang lain, maka sudah tentu nasihat baik dan dakwah yang kalian sampaikan tidak akan memberi pengaruh sedikitpun di hati para pendengarnya.”